| Dapat tugas dari guru bahasa Indonesia, nyari biografi Yudhi Herwibowo. Copas dari beberapa sumber :D jadi, siapa sih Yudhi Herwibowo itu ? silahkan dibaca ..... ^^ |
Salah satu novelnya berjudul Menuju Rumah Cinta-Mu yang lahir 2007
bahkan sukses menembus pasar buku Malaysia, Singapura, Brunei sampai Thailand.
Novel itu juga pernah difilmkan dan ditayangkan salah satu stasiun televisi.
Sebelumnya, cerpennya pernah memenangi sayembara cerpen majalah Femina
2004, sayembara novelet Femina 2005 dan sayembara novel inspirasi
penerbit Andi Jogja. Pada 2010 lalu, Yudhi menjadi satu dari 15 penulis
Indonesia yang diundang di Ubud Writer Festival.
Lahir di Palembang, bakat menulis Yudhi terasah sejak kecil. Di Kelas VI SD,
dengan menggunakan bolpoin dan buku tulis, Yudhi membuat majalah. Ia membuat
rekaan cerita mirip cerita detektif. Ia lalu melepas sampul buku dan
menggantinya dengan kertas putih. Dan ia menggambari sampul putih itu sesuai
tokoh rekaannya itu. “Terkumpul sekitar tujuh buah, sekarang masih ada,” ujar
anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Soenarto dan Nunung Rohana ini.
Hobi menulis itu terus berlanjut di SMP dan SMA. Yudhi mulai mengirimkan
cerita-cerita pendeknya di majalah Kawanku maupun Hai. Meski
begitu, saat itu Yudhi belum tertarik menjadi penulis. Di bangku kuliah, Yudhi
malah tertarik menggeluti usaha apalagi ketika krisis ekonomi 1998 menghantam.
Sebaagai anak kos, Yudhi mengaku turut terkena imbasnya. Jatah bulanan
sebagai anak kos tak naik. Sementara bahan makanan dan kebutuhan lainnya
melambung tanpa ampun. Demi mengganjal kebutuhan hidupnya, ia dan
teman-temannya di kos El Torros depan kampus UNS membuka berbagai usaha. Ada
yang patungan membuka toko komputer, ada yang jualan siomai, buka rental PS. Ia
sendiri membuka persewaan buku. “Nama usahanya El Torros semua,” ungkapnya.
Beruntung, usahanya itu cukup
menopang kehidupannya sebagai anak kos. Bahkan usahanya itu sempat berkepak
hingga Jogja. Momentum itu membangkitkan energinya lagi untuk menulis. Setelah
sukses di bidang usaha itu, Yudhi berpikir mengumpulkan sejumlah cerpennya
untuk diterbitkan.
Pada 2001, ia mengirim belasan
cerpennya ke penerbit Balai Pustaka. Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Naskah
Yudhi diterima dengan syarat ia harus mengganti bahasa prokem yang masih
banyak dituangkannya di cerpen. Ia sepakat. Yudhi mengaku momentum itu membuat
hatinya mantap hidup dari menulis. Sempat ia tertarik melamar di sebuah
perusahaan pengembang perumahan. Namun, ia hanya sekadar melamar dan
melupakannya begitu saja. ”Hasil persewaan sudah cukup buat hidup,” alasannya.
Panggilan hati
Yang bikin ia tergoda saat itu adalah iklan lowongan di Harian SOLOPOS mengenai tawaran menjadi penulis dari penerbit Andi Jogja. Di penerbit Andi, Yudhi dibimbing membuat buku. Pada 2002, terbit buku pertamanya berjudul Mengenal Adobe Pagemaker 7.
Yang bikin ia tergoda saat itu adalah iklan lowongan di Harian SOLOPOS mengenai tawaran menjadi penulis dari penerbit Andi Jogja. Di penerbit Andi, Yudhi dibimbing membuat buku. Pada 2002, terbit buku pertamanya berjudul Mengenal Adobe Pagemaker 7.
Toh ia bisa menepis keraguan itu.
Baginya, banyak hal mengejutkan yang ia dapatkan dari menulis. Salah satunya
ketika dapat berinteraksi dengan pembaca. Yudhi menyebut buku Perjalanan
Menjadi Cahaya beberapa kali menjadi bahan skripsi. Itu cukup membuktikan,
dunia kepenulisan kian membaik. ”Makanya saya selalu menyemangati teman yang
sedang kehilangan pekerjaan untuk menjadi penulis. Hidup saya tidak akan
jauh-jauh dari buku dan kertas,” tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar